Ketika Kopi Murah bukan Murahan dan Sehat !

@klinikkopi

@klinikkopi

Semalam kedatangan tamu yg tak biasa, pertama saya kedatangan Mbak iin. kemarin lusa dia sudah minum Wamena arabica, datang ke dua saya sudah tahu karakter kopi mana yg akan dia sruput. saya bikinkan ameraicano Gayo. Enak, tapi tetep enak wamena kata mbak iin. Di ujung pembicaraan dia berkata ” Mas peng, saya akan sering kesini, biar warung ini ga sepi dan tetep ada…”, dengar itu saya terharu.. * ambil lap*….

Kedua , malam itu juga datang mbak tere ( @tere_movmov ), dia tanpa pikir panjang langusng ” MAS AKU PESEN BAJAWA”, lantas saya tanya…kenapa pesen bajawa ? ” sebab mbah saya orang bajawa”. Sama ketika saya menyedu kopi di Dieng, wakil bupati banjarnegara juga hanya mau “biji kopi Dieng” tidak yg lain. Artinya, peminum seperti memutar waktu dan ber-romantisme terhadap sebuah daerah  dimana kopi berasal. sangat menarik.

@klinikkopi

@klinikkopi

Cuma butuh 3 hari, 250 gram Biji kopi Wamena ludes….

@klinikkopi

@klinikkopi

Ketiga, mas wibi ( @thebabiaer ) dia sudah lama tidak mengkonsumsi kopi. kenapa ? yah…klasik…seperti orang kebanyakan…lambung sudah ga bersahabat dengan kopi. FYI saja…mas wibi sudah 2 kali datang ke @klinikkopi ..lambung aman2 sahaja… tekniknya adalah kecepatan saat brewing  (menyedu) akan ngaruh besar ke kadar kafeiinya. ( ralat : twit ini  )

Seneng, tidak hanya melulu soal uang dan untung…bahwa berbagi itu akan menambah ilmu…dan nambah temen adalah bonusnya…

life is too short to drink Bad Coffee…

pepeng

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s